PADANG, 17 Oktober 2026 — Di tengah sulitnya mencari pekerjaan dan terbatasnya modal untuk membuka usaha, sekelompok anak muda duduk melingkar membahas satu pertanyaan: mungkinkah koperasi menjadi jalan keluar bagi Generasi Z? Pertanyaan itulah yang dibawa ke ruang Diskusi Idealiz Batch 5.
Bagi banyak anak muda, koperasi terdengar seperti cerita lama. Ia identik dengan kantor desa, buku simpanan, dan pengurus yang rambutnya sudah memutih. Di ruang diskusi ini, anggapan itu justru menjadi pembuka percakapan.
Suasana diskusi peserta mengenai tantangan koperasi, keterbukaan pengelolaan, dan keterlibatan anak muda.
Tiga Jalan Masuk bagi Gen Z
Gun Sugianto, Ketua DEKOPINWIL Sumatera Barat, membuka diskusi dengan menempatkan Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai penyeimbang bagi sistem ekonomi kapitalis. Menurutnya, berbagai program pemerintah saat ini merupakan langkah nyata menyambut Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa sistem ekonomi Indonesia adalah ekonomi Pancasila yang berlandaskan koperasi.
Ia menawarkan tiga strategi agar koperasi menjadi kekuatan ekonomi Gen Z:
- Gen Z mendirikan koperasi berbasis komunitas sesuai potensi lokal.
- Gen Z memperbaiki atau membangun sistem baru berbasis teknologi pada koperasi yang sudah ada.
- Gen Z bergabung menjadi anggota koperasi.
Terkait Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Gun menyebut programnya mencakup gerai sembako, klinik kesehatan desa, apotek desa, simpan pinjam, sistem pergudangan dan cold storage, serta sarana logistik dan distribusi.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Andalas, Dr. Virtous Setyaka, yang akrab disapa Mas Vi, mengingatkan bahwa pusat gerakan ekonomi adalah masyarakat, bukan pemerintah. Negara memang bertanggung jawab menyejahterakan rakyat, tetapi koperasi harus dibangun dari keinginan untuk mandiri. Baik koperasi maupun negara, katanya, hanyalah instrumen. Gen Z dituntut peka terhadap keadaan dan belajar memanfaatkan instrumen ekonomi yang tersedia.
Moderator, M. Hafiz Al-Habsy, mengarahkan peserta untuk melihat sejauh mana kekuatan koperasi dapat memberdayakan Gen Z dan menjadikan hasil diskusi sebagai landasan bersikap ke depan.
Ketika Peserta Bicara: Kritik, Stigma, dan Kejujuran
Begitu forum dibuka, suasana berubah menjadi lebih kritis.
Fajar Shajid, penggerak digitalisasi koperasi sekaligus Founder alokop.id, bercerita tentang hasil pengamatannya. Menurutnya, sejauh ini belum ada Gen Z yang menjadi anggota koperasi di lingkungan yang telah ia datangi. Ia juga menyoroti banyaknya koperasi yang kurang terbuka dalam urusan keuangan, padahal dana tersebut merupakan milik anggota.
Selvy, Ketua BEM FISIP UNAND sekaligus penanggap, menyebutkan bahwa koperasi masih dipersepsikan kolot, monoton, dan didominasi generasi tua. Karena itu, sistemnya perlu diubah agar lebih menarik bagi anak muda.
Zia, Presiden Mahasiswa BEM AKBP STIE KBP yang juga menjadi penanggap dalam diskusi ini, melihat adanya harapan bagi Gen Z. Ia mendorong agar koperasi tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga ikut menetapkan kebijakan. Keberhasilan koperasi, menurutnya, semestinya dinilai dari sehatnya pergerakan, bukan banyaknya jumlah. Ia berharap diskusi ini memantik kerja sama antara koperasi dan mahasiswa.
Dani, Presiden Mahasiswa UNBRAH, mempertanyakan urgensi KDKMP. Menurutnya, koperasi saat ini kurang terlihat dan kurang terasa dampaknya bagi Gen Z. Ia juga menyinggung stigma buruk terhadap KDKMP dan belum adanya rencana bisnis (business plan) yang matang dari Gen Z untuk menggerakkan koperasi tersebut.
Kritik paling tajam datang dari Kak Dita, salah satu peserta diskusi. Ia menilai operasional koperasi telah jauh melenceng dari gagasan awal Bung Hatta. Koperasi, katanya, berjalan secara top-down dari pemerintah, bukan bottom-up dari kebutuhan masyarakat. Selama sistemnya tidak diubah secara mendasar, gagasan membebaskan Gen Z melalui koperasi baginya hanya omong kosong.
Transparansi dan Keberlanjutan Koperasi
Menjelang akhir, diskusi bergeser ke evaluasi pelaksanaan KDKMP.
Bang Aldi, salah satu peserta diskusi, mempertanyakan transparansi anggaran dan efektivitas KDKMP dalam mencapai titik balik modal (break-even point) untuk mengejar ketertinggalan ekonomi desa. Ia juga menanyakan kepastian jadwal penempatan tenaga hasil rekrutmen.
Bang Taufik, peserta lainnya, menyatakan optimismenya. Koperasi akan sangat bermanfaat dan berdampak, dengan syarat gerakannya murni tumbuh dari masyarakat. Hal terpenting baginya adalah memastikan dana yang dialokasikan benar-benar mengalir dan bermanfaat bagi rakyat, bukan sekadar menghitung untung rugi komersial.
Koperasi baru benar-benar akan menjadi kekuatan ekonomi Gen Z apabila anak muda tidak hanya menjadi penonton, melainkan turun tangan ikut membangun, mengawal, serta mengawasinya secara langsung.
Mencari Jalan agar Koperasi Lebih Dekat dengan Gen Z
Pertanyaan dalam judul diskusi ini perlahan menemukan titik terang melalui usulan taktis yang mengemuka: memangkas birokrasi keanggotaan melalui inisiatif kebijakan agar seluruh masyarakat di sekitar lokasi berdirinya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dapat otomatis terdaftar dan terafiliasi sebagai anggota tanpa perlu proses pendaftaran ulang.
Meski para pembicara melihat koperasi sebagai peluang besar, peserta tetap menuntut transparansi, perubahan sistem, dan rencana bisnis yang nyata. Satu hal disepakati bersama: koperasi baru benar-benar akan menjadi kekuatan ekonomi Gen Z apabila anak muda tidak hanya menjadi penonton, melainkan turun tangan ikut membangun, mengawal, serta mengawasinya secara langsung.
PENULIS
Khairul Fadli Rambe
Tim Technical & Operational di Agraris Indonesia